Sabtu, 03 November 2012 0 komentar

Oleh: Arif Wibowo (Peneliti Pusat Studi Peradaban Islam, Solo)
Tanggal 25 November 1896, hari di mana Soegijapranata lahir adalah era keemasan bagi kegiatan missionarisme di Indonesia. Keuntungan besar yang diperoleh pemerintah Belanda dari hasil merampok kekayaan Indonesia melalui sistem tanam paksa (cultuurstelsel), demi kehormantan, kata Conrad Th Van Deventer, mengikat Belanda untuk melakukan politik balas budi. Politik balas budi atau politik etis ini bisa dikatakan seperti sebutir permen yang diberikan Belanda setelah mereka merampas kebun tebu milik bangsa Indonesia, kata budayawan Emha Ainun Najib. Dan permen itu, bukan permen biasa, sebab ia mengandung racun “barat dan Kristen” yang tercermin dari program-program Partai Agama di Belanda dalam menyambut politik etis ini.
Pengkristenan Nusantara tetap merupakan panggilan rakyat Kristen Eropa (Belanda), yang jika ditinjau dari segi kenegaraan maupun kemasyarakatan adalah juga sangat penting. Maka dari itu, pemerintah colonial harus memberikan kebebasan yang seluas-luasnya dan tunjangan keuangan dalam melakukan pendidikan dan perawatan (misi).
Selain misionarisme langsung seperti yang diprogramkan Parta Agama di Belanda, juga dilakukan politik Nativisasi. Politik Nativisasi ini dimotore oleh Instituut voor de Javaansche Taal (Lembaga Bahasa Jawa) yang diotaki oleh para cendekiawan dari Netherlands Zending Genootschap (NZG). Awalnya, lembaga yang berdiri pada tahun 1832 ini bertujuan untuk kepentingan penerjemahan Bible ke dalam bahasa Jawa, tapi dalam perkembangannya Lembaga ini menjadi alat politik kebudayaan untuk melakukan de Islamisasi Kebudayaan. Para javanolog Belanda dalam Instituut voor de Javaansche Taal ini menggali kesusastraan, bahasa dan sejarah Jawa kuno yang telah lama menghilang di kalangan orang Jawa. Untuk kemudian menghidupkan kembali tradisi Jawa kuno (Jawa pra Islam) dan menghubungkannya dengan Surakarta.  Javanolog Belanda lah yang “menemukan”, “mengembalikan” dan “memberikan makna terhadap Jawa masa lalu. Jika orang Jawa ingin kembali ke masa lalunya, mereka harus melalui screening pemikiran Javanolog Belanda.
Kalau Kristen mendapat kebebasan bergerak dengan dukungan finansial dari pemerintah kolonial Belanda, dakwah Islam berada dalam posisi sebaliknya. Aneka pembatasan dilakukan, mulai dari pembatasan gerak dengan keharusan memiliki passport bagi santri yang ingin berguru di pesantren luar propinsi, pembatasan jama’ah haji dan screening terhadap kitab-kitab yang diperbolehkan masuk ke pesantren-pesantren. Pada masa seperti itulah, seorang anak bernama Soegijapranata lahir dan bertumbuh.
Jumat, 02 November 2012 0 komentar

Kriteria Pemimpin


“…….. jabatan adalah amanah, ia pada hari kiamat akan menjadikan yang meyandangnya hina dan menyesal kecuali yang mengambilnya dengan benar (bihaqqiha) dan menunaikan tugasnya dengan baik.” Itulah nasehat Rasulullah kepada Abu Dzar al-Ghifari yang meminta jabatan kepada beliau.  
Ada tiga kriteria pejabat atau pemimpin (imam) yang tersembunyi dalam pesan di atas yaitu: amanah, mengambil dengan benar dan menunaikan dengan baik.
Pemimpin yang pekerja keras seperti digambarkan oleh al-Qur’an harulah orang yang kuat dan tepercaya. “Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja, ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” (al-Qashash : 26)
Kuat pada ayat di atas adalah kuat bekerja dalam memimpin. Sedang maksud amanah adalah tidak berkhianat dan tidak menyimpang, dengan motif karena takut kepada Allah. Maka sebagai pekerja untuk umat, sifat kuat bekerja adalah prasyarat penting pemimpin. Tapi yang lebih penting lagi adalah menjaga sifat amanah yang bisa hilang karena tuntutan pekerjaannya. (Yusuf al-Qaradhawi, Al-Siyayah al-Syar’iyyah Fi Dhaui Nushus al-Syari’ah wa Maqashiduha).
Khalid bin Walid dan ‘Amr bin Ash yang baru masuk Islam diberi jabatan pimpinan militer. Padahal ilmu keislaman mereka berdua belum memadai. Tapi ternyata keduanya dianggap kuat bekerja dan mampu menjaga amanah. Sebaliknya, orang sealim Abu Hurairah yang sangat kuat hafalan haditsnya dan banyak mendampingi Rasulullah tidak diberi jabatan apa-apa. 
al-Qur’an memberi pelajaran dari kisah Nabi Yusuf. Di situ dikisahkan bahwa ia diberi kedudukan tinggi oleh raja karena dapat dipercaya (amin), pandai menjaga (hafiz) dan berpengetahuan (alim) (Yusuf; 54-55). Ini berarti kriteria pemimpin ditambah satu syarat lagi yaitu “hafizh” artinya menjaga amanah. Hal ini disinggung Nabi dalam hadits yang lain: “Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin tentang rakyatnya, apakah menjaganya (hafiza) atau menyia-nyaikannya.” (HR. Nasa’i dan Ibnu Hibban).
0 komentar

ktika cinta menggelayut di hati....cinta itu masih smpat menatapku...menepukku...mengajak brcengkrama..mengingatkanku pd sosok paduka..oh iyyaa!!!...aq trsntak..tp jg trsedak..tp dia curang..stelah itu lngsung dia brkta:..."ya sudahlah aq cm bisik2 aj kan..lau 67 kali nama sy (cinta) itu trcantum dlm al-qur'an..kitabmu itu lo..kitab yg paling obyektif yg prnah sy temui..sampai2 sy gk tega buat mlupakannya dan hrs memblas keobjektivannya itu...tp sbnrnya sy tu sebell banget..trnyta cinta yg dia mksut itu bkn cinta manisnya gula dunia...gula yg bnyak mmbuat manusia tu pd kena diabetes, obesitas..atau komplikasi laennya...y pkknya bkn gaya gue banget lah, gua kan gaul men" Aq pun menimpali: "tyus aq pun hrs bilang kacian deh lo gt??..y dah deh skrng gini aj...sy mau dukung cinta yg kyk km aj..pi ad syaratnya brooww.."..si cinta palsu itu lngsung sigap: ap tu syratnya coy??.." kt sy: "sy mau jaminan special lau jd fans km.." sy mau jaminan surga..."  sambil plonga-plongo dia mncoba mnjwab: "bntar2 brow...surga tu ap y??...yg sy knal tu cm inisial N...NERAKA...!!!...aq bkn prgi smbil memalingkan muka, dan brkata: ke laut aj deh lu...hihihi..
Kamis, 01 November 2012 0 komentar

Ar Razi dan Konsep Manusia Mulia

“Manusia mulia adalah manusia yang mengutamakan wahyu Allah dan akalnya dibanding mengikuti hawa nafsunya,” demikian ungkap Fakhruddin ar-Razi dalam karyanya Kitab an-Nafs wa ar-Ruh wa as-Syarh Quwahuma (Buku Mengenai Jiwa dan Ruh dan Komentar Terhadap Kedua Potensinya).
Fakhruddin ar-Razi adalah seorang ulama-intelek yang berwibawa (m. 606 H/ 1210 M). Ia menulis ratusan kitab dalam bidang Tafsir, Fiqih, Ushul Fiqih, Kalam, Logika, Fisika, Filsafat, Kedokteran, Matematika, Astronomi, dan sebagainya. Menurut ar-Razi,  manusia memiliki hawa nafsu dan tabiat yang selalu berusaha menggiringnya untuk memiliki sifat-sifat buruk. Tapi, jika manusia lebih mengutamakan bimbingan wahyu Allah dan akal dibanding hawa nafsunya, maka ia akan jadi mulia. Bahkan, manusia bisa lebih mulia dari malaikat.  Mengapa? Malaikat selalu bertasbih karena tidak memiliki hawa nafsu, sementara manusia harus berjuang melawan hawa nafsunya. Demikian pendapat Fakhruddin ar-Razi.
Bagi Fakhruddin ar-Razi, kebahagiaan jiwa atau kenikmatan ruhani lebih tinggi martabatnya dibanding kebahagiaan fisik atau kenikmatan jasmani, semisal kuliner, seks dan hasrat memiliki materi.  Argumentasinya sebagai berikut.  Pertama, jika  kebahagiaan manusia terkait dengan hawa nafsu dan mengikuti amarah, maka hewan-hewan tertentu  -- yang amarah dan nafsunya lebih hebat --  akan lebih tinggi martabatnya dibanding manusia.  Singa lebih kuat nafsu amarahnya dibanding manusia; burung lebih kuat daya seksualnya ketimbang manusia. Tapi, faktanya, singa dan burung tidak lebih mulia dari manusia.
Kedua, jika makanan atau seksualitas menjadi sebab diraihnya kebahagiaan dan kesempurnaan, maka seseorang yang makan terus menerus akan menjadi manusia paling sempurna atau paling bahagia.  Tapi, seorang yang  makan terus menerus dalam jumlah  berlebihan, justru akan membahayakan dirinya.  Jadi, sebenarnya makan adalah sekadar untuk memenuhi kebutuhan jasmani, bukan menjadi penyebab pada kebahagiaan atau pun kesempurnaan manusia.
Ketiga, manusia sebagaimana hewan merasakan kenikmatan saat makan dan minum. Jika makan menjadi sebab pada kebahagiaan, maka manusia tidak akan menjadi lebih tinggi derajatnya dibanding hewan. Bahkan manusia bisa lebih rendah dari hewan jika kebahagiaan manusia diidentikkan dengan kenikmatan jasmani. Sebab, manusia -- dengan akalnya – menyadari,  kenikmatan jasmani tidaklah sempurna. Sedangkan hewan, tidak bisa menyadarinya karena hewan tidak bisa berfikir tatkala sedang dalam kenikmatan jasmani.
Keempat, kenikmatan jasmani sejatinya bukanlah kenikmatan yang sebenarnya. Seseorang yang sangat lapar, akan segera merasakan nikmat yang tinggi jika ia segera makan. Sebaliknya, seseorang yang sedikit laparnya, sedikit pula rasa nikmatnya ketika ia makan. Seseorang merasakan kenikmatan berpakaian saat ia merasa terlindung dari rasa dingin dan panas.   Ini menunjukkan,  nikmat jasmani bukanlah kenikmatan yang sesungguhnya. Jiwanyalah yang merasakan kebahagiaan; dan kebahagiaan jiwa bukanlah kenikmatan jasmani.
Senin, 07 Februari 2011 0 komentar

Strategi dan Intrik dalam Al-Qur'an

SIASAT MAHMUDAH DAN MADZMUMAH
007, 3 digit angka yang identik dengan kode aksi agen rahasia inteljen Inggris M16 dalam film James Bond, maha karya dari novel Ian Fleming. Film yang sempat diperankan oleh sean connery tersebut memang selalu membuat para penggemar film berdecak kagum karena intrik-intriknya yang tak terduga dan dibumbui dengan alat-alat modern super canggih.

Dalam dunia nyata, agen inteljen yang paling ditakuti adalah agen binaan institute inteljen milik Israel: Mossad, atau mungkin juga Shin Bet. Semua Negara terutama Timur Tengah dibuatnya selalu ketar-ketir dengan gerakan-gerakannya yang seakan sporadis. Kelihaiannya dalam penyamaran, biang konflik dan raja tega membuatnya sangat ditakuti.

Sebenarnya kalau kita menilik kembali sejarah asal-usul bangsa Israel akan mengingatkan kita pada sosok keluarga nabi Yusuf, karena memang mereka adalah keturunan nabi Ya’qub as.
Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk umat muslim sedunia dengan jelas telah memaparkan kisah perjalanan nabi Yusuf dengan saudara-saudaranya dalam surat Yusuf. Setelah kita teliti dengan seksama maka kita pun mendapati aneka strategi dan intrik yang begitu kental dalam setiap kejadian di dalamnya. Mulai dari kisah ketika nabi yusuf mendapatkan pertanda berupa mimpi dari Allah swt hingga hijrahnya keluarga Ya’qub (Israel) ke Mesir.
1. Pertama-tama mari kita mengkaji dari surat Yusuf Ayat 12 (Tipu muslihat saudara-saudara Yusuf):

12. biarkanlah Dia pergi bersama Kami besok pagi, agar Dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan Sesungguhnya Kami pasti menjaganya."

Dari ayat ini kita dapat mengetahui bagaimana siasat dan tipu muslihat saudara-saudaranya terhadap ayahnya Ya’qub as, guna memisahkannya dari nabi nabi Yusuf as. Siasat mereka adalah dengan berusaha mengajak nabi Yusuf ke hutan guna bermain bersama untuk kemudian dibuang ke sebuah sumur tua.
Kemudian diteruskan Ayat 16-18:

16. kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis.
17. mereka berkata: "Wahai ayah Kami, Sesungguhnya Kami pergi berlomba-lomba dan Kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang Kami, lalu Dia dimakan serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada Kami, Sekalipun Kami adalah orang-orang yang benar."
18. mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya'qub berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku). dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan."

Nabi Ya’qub hanya bisa pasrah dengan cerita bohong tersebut, walaupun sangat mungkin sekali jikalau nabi Ya’qub mengetahui bahwa itu hanyalah cerita bohong, karena jelas sekali bahwa nabi Ya’qub sebelumnya telah mendapat cerita dari putranya Yusuf tentang hal ihwal mimpi yang dilihatnya, yang dapat kita dapatkan dalam surat yusuf ayat 4-5:

4. (ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku[742], Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku."
5. Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia."

Dalam ayat tersebut dengan jelas bahwa sebelas bintang, matahari dan bulan semuanya sujud kepada nabi Yusuf as, yang tidak lain adalah symbol dari sebelas saudara kandungnya, bapak beserta ibunya. Tentunya sebagai kapasitas Ya’qub sebagai nabi dengan mudah mengerti arti mimpi tersebut, bahwasannya suatu saat semua keluarganya akan tunduk hormat atas anugrah Allah yang diberikan ke Yusuf. Bagaimana mimpi itu dapat terwujud seandainya nabi Yusuf meninggal terlebih dahulu?. Bapaknya meyakini bahwa dia masih hidup. Bukti dalil al-Qur’an dapat kita saksikan di ayat 83:
 
;