Minggu, 28 April 2013 0 komentar

MAKNA ISLAM

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah berkata :
Pengertian Islam secara umum adalah beribadah kepada Allah dengan syari’at-Nya sejak masa Allah mengutus para Rasul hingga tegaknya hari kiamat. Pengertian Islam inilah yang dimaksud oleh Allah dalam banyak ayat yang menunjukkan bahwa syari’at-syari’at terdahulu semuanya juga disebut berislam kepada Allah ‘azza wa jalla, seperti firman Allah yang menceritakan tentang Ibrahim (yang artinya), “Wahai Rabb kami jadikanlah kami berdua orang yang muslim kepada-Mu dan juga anak keturunan Kami sebagai umat yang muslim kepada-Mu.” (QS. Al-Baqarah : 128).

Adapun Islam dalam pengertian yang lebih khusus semenjak pengutusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hanya mencakup agama yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu disebabkan agama yang beliau ajarkan menjadi penghapus seluruh agama terdahulu. Sehingga siapa saja (orang sesudah beliau) yang mengikuti beliau menjadi orang muslim dan siapa saja yang menentang beliau maka dia bukanlah muslim. Maka para pengikut rasul terdahulu adalah orang muslim di masa rasul mereka. Orang Yahudi adalah kaum muslimin di masa Musa ‘alaihis salam. Begitu pula orang Nasrani adalah kaum muslimin di masa Isa ‘alaihis salam. Adapun ketika Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diutus kemudian mereka mengingkari risalah beliau maka mereka bukan lagi kaum muslimin.

Agama Islam dalam pengertian inilah agama yang sekarang diterima di sisi Allah dan akan bermanfaat bagi pemeluknya. Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali-’Imraan : 19). Dan Allah juga berfirman (yang artinya), “Dan barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia akan termasuk golongan yang menderita kerugian.” (QS. Ali-’Imraan : 85). Seperti inilah keislaman yang dianugerahkan Allah kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta umatnya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya),”Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku atasmu. Dan Aku pun ridha Islam sebagai agama bagimu.” (QS. Al-Maa’idah : 3). (Syarh Tsalatsatil Ushul, hal. 20-21)
0 komentar

Birokratisasi Gerakan Islam

Oleh: Abdurrahman Wahid
Yang dimaksudkan dengan birokratisasi adalah keadaan yang berciri utama kepentingan para birokrat menjadi ukuran. Sama saja halnya dengan militerisme jika kepentingan pihak militer merupakan ukuran utama bagi perkembangan sebuah negeri. Jadi bukannya apabila kaum birokrat turut serta dalam kepemimpinan, seperti halnya jika para pemimpin militer ada dalam pemerintahan. Kata kunci dalam kedua hal ini adalah di tangan siapa kekuasaan itu.

Ada seorang pengamat militer dan ahli strategi perang dari Eropa Barat lebih dari seabad yang lalu, Carl von Clausewitz, mengatakan bahwa "perang terlalu penting untuk hanya diputuskan oleh para jenderal saja. Jadi perang adalah sebuah keputusan besar, yang secara teoretik harus diputuskan oleh seluruh rakyat dari sebuah negara". Demikian juga dengan gerakan Islam.

Gerakan Islam di negeri ini sudah ada, secara resmi dan terorganisasi lahir bersama hadirnya Muhammadiyah sejak tahun 1912. Namun sesuatu yang harus dipahami secara mendalam adalah Nahdlatul 'Ulama (NU), yang lahir pada tahun 1926, mempunyai asal-usul yang sama tuanya dengan Muhammadiyah. Yaitu ketika berabad-abad yang lalu, para ulama Islam mulai berbeda pendapat mengenai ziarah kubur dan sebangsanya.

Ulama yang memperkenankan hal itu, di kemudian hari adalah orang yang mendirikan NU. Sedangkan yang melarang kemudian mendirikan Muhammadiyah, sementara mereka yang ingin 'menjembatani' di antara kedua organisasi tersebut, pada akhirnya mendirikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) di tahun-tahun tujuh-puluhan. Pembedaan yang demikian sederhana ini, dilakukan untuk mempermudah pengertian kita saja.
Kamis, 25 April 2013 0 komentar

Religion is Good For you

Oleh: Azyumardi Azra

Agama baik untuk Anda. Akan tetapi, sekali lagi, ada kalangan masyarakat yang tidak setuju dengan pernyataan ini. Alasannya macam-macam, terutama terkait dengan ekses-ekses tertentu dari tindakan orang-orang yang berbuat atas nama agama. Padahal, tindakan itu merupakan penyimpangan dan bertentangan dengan esensi dan ajaran agama-rahmat dan kasih bagi semesta alam.

Jelas jauh lebih banyak lagi orang yang yakin agama baik untuk umat manusia. Memulai perdebatan Intelligence Squared2 (IQ2) tentang “Religion is Good for You”, saya berpandangan, agama baik bagi individu dan masyarakat jika esensi dan ajarannya diimani dan diamalkan secara komprehensif. Untuk memperoleh kebaikan agama, orang atau kelompok masyarakat mesti tidak mengambil ajaran agama atau ayat-ayat dalam kitab suci secara sebagian atau sepotong-potong. Juga tidak memahami ajaran atau ayat kitab suci tertentu untuk kepentingan sendiri, apakah harta benda, pengaruh, dan kekuasaan.

Pemahaman semaunya terhadap agama, baik keseluruhan maupun sebagian, hanya berujung pada ekses yang mendistorsi agama yang jelas bertentangan dengan hakikat agama.

Pemahaman agama secara komprehensif (syumul atau kaffah) tidak bisa dengan menggunakan akal pikiran semata. Karena, agama pertama-tama bukanlah kumpulan doktrin ilmiah yang bersandar pada prinsip rasional.

Sebaliknya sejak dari awal, agama menyangkut keimanan-ranah yang hanya bisa terjangkau kalbu tidak oleh akal. Memang agama mengandung ajaran rasional, tetapi tidak berarti agama sepenuhnya dapat dipahami dengan menggunakan akal pikiran semata.
Sifat agama seperti itulah yang justru membedakan agama dengan sains dan produk akal lain. Karena itu, sejauh menyangkut agama, yang terpenting adalah mengimani (believing), mengamalkan (practicing), dan mengalami (experiencing). Melakukan ketiga hal ini dalam beragama, manusia dapat merasakan bahwa 'agama benar-benar baik bagi kita'.
Sabtu, 20 April 2013 0 komentar

TEORI KEBANGKITAN


Al Islam ya’lu wala yu’la ‘alaih, Islam Rohmatan lil ‘Alamin...kita sering mendengar kata seperti itu, tapi kenyataannya justru sebaliknya. Islam semakin terpuruk, apa penyebabnya?... Beberapa faktor penyebab kemunduran umat Islam:
1.      Kebodohan, sehingga sering terjadi permusuhan di kalangan umat Islam, terlebih karena masalah furu’iyyah dan menimbulkan bermacam-macam penafsiran yang menyimpang dari esensi ajaran Islam
2.      Kerusakan budi pekerti terutama para pemimpinnya.
3.      Sikap jumud/beku yang dialamai umat Islam, dengan menyelubungi ketauhidan yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan khurafat dan faham kesufian
4.      Terlalu fokus dalam hal keagamaan atau ibadah saja, khususnya dalam dunia pendidikan generasi muda Islami. Padahal pengetahuan umum (filsafat, tekhnologi, biologi, politik, mantiq dll) adalah penting untuk dipelajari.
5.      Cinta Dunia dan Takut Mati. Nabi Muhammad SAW berkata: ”Kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang yang berebut melahap isi mangkok makanan. Para sahabat bertanya, “Apakah saat itu jumlah kami sedikit, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali tetapi seperti buih air bah (tidak berguna) dan kalian ditimpa penyakit wahan.” Mereka bertanya lagi, “Apa itu penyakit wahan, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kecintaan yang sangat kepada dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)

Tapi menurut saya yang tidak kalah penting adalah politik dan ekonomi. Kita tahu bahwa banyak sekali para pejuang Islam yang berusaha mati-matian untuk bisa kembali menghidupkan dan membangkitkan Islam, tapi sayang mandek di tengah jalan. Mengapa? Karena kalah dengan kebijakan politik dan ekonomi penguasa, dan para penguasa bertekuk lutut di bawah kaki Barat.  Umat Yahudi meski berjumlah hanya 40 juta mampu menguasai dunia lewat ekonomi dan politik.
Rabu, 17 April 2013 0 komentar

Paradok Demokrasi

Empat belas tahun Orde Reformasi, perkembangan demokrasi Indonesia menampakkan wajah yang paradoks. Disatu sisi demokratisasi membawa kebebasan berekspresi dan berasosiasi. Di sisi lain, terdapat antagonisme terhadap kecenderungan ini berupa arus balik "politik identitas" (identity politics), yang mengukuhkan perbedaan identitas kolektif-etnis, agama, dan bahasa.

Arus balik politik identitas ini membawa arus liar di balik maslahat demokrasi. Betapa tidak, pintu masuk menuju demokratisasi ini dimulai dengan aksi kekerasan terhadap keturunan Tionghoa, disusul oleh serangkaian kekerasan negara dan masyarakat, terutama di Papua, Timor-Timur, Aceh, Kalimantan Barat, Maluku, Jawa Timur, Jawa Barat, dan wilayah lainnya.

Pemilukada secara langsung malah membawa dampak lebih jauh, berupa bentrokan keluarga, marga, dan tetangga dalam lingkungan terdekat.

Hal ini terjadi karena politik segregasi yang diperkenalkan sejak era kolonial membuat masyarakat Indonesia terkunci dalam situasi "plural monokulturalisme" yang terdiri atas banyak etnokultural yang hidup dalam kepompong budayanya masing-masing, tanpa kehendak saling berbagi.

Di masa Orde Baru, situasi demikian diperkuat, ketika asimilasi dipaksakan dan perbedaan ditekan lewat tabu SARA. Maka, ketika angin kebebasan berembus, arus desentralisasi menjadi katalis bagi perayaan perbedaan.
 
;